Home > Geomatika, Satelit Astronomi > Satelit Jason-1

Satelit Jason-1


Jason-1

Satellite Jason-1
Launch on 07/12/2001
Altitude 1336 km
Inclination 66 °
Repetitivity 9.9156 days
Agency Cnes/Nasa
Goals Measure sea surface height

Jason 1 diluncurkan pada tanggal 7 desember 2001. Kendaraan peluncur Jason 1 adalah Boeing Delta II 7920. Kendaraan delta ini juga mengangkut misi nasa yang lain, yaitu Timed, dengan Jason-1 terpisah pertama. Tempat peluncurannya adalah di Vandenberg Air Force Base. Masa hidupnya, yaitu 5 tahun sudah terlewati dan kapasitasnya saat ini sebagai satelit cuaca masih menunjukkkan performa yang bagus.

Sebagai penerus dari Topex/Poseidon, satelit ini dikembangkan bersama oleh Cnes dan Nasa. Jason-1 adalah satelit mini, yang berdasarkan Multi misi Proteus spacecraft bus. Semua instrumennya diturunkan dari Topex/Poseidon namun dengan membatasi berat dan konsumsi energinya. Orbitnya yang tidak berubah, hal ini bila dibandingkan dengan Topex/Poseidon menjadikan Jason 1 bisa secara kontinu mengakuisisi pengukuran dan dengan demikian kita bias memahami banyak fenomena laut dalam jangka panjang.

Konsep baru operasi control dan proses data satelit telah dikembangkan dalam rangka mengantarkan hasil pengukuran secara mendekati-real time kepada komunitas pengguna internasional untuk operasional oseanografi.

Komunitas pengguna tersebut demikian memiliki peran penting untuk bermain dalam menopang kesuksesan misi pada beberapa tahun ke depan melalui seri satelit Jason

The platform and instruments

Pesawat luar angkasa Proteus merupakan modul dasar dalam mengakomodasi instrument yang dibutuhkan agar satelit dapat berfunsi sebagaimana instrument misi yang bekerja secara khusus.

Proteus Platform

Bus Proteus yang umum, dikembangkan dalam kemitraan antara Cnes dan Thales Alenia Space, telah digunakan untuk pertama kalinya oleh Jason-1. Segmen bumi proteus yang umum (pusat control dan ground station) ini juga telah secara special dirancang untuk Jason-1. Segmen darat tersebut juga dikembangkan oleh Cnes untuk beradaptasi terhadap satelit-satelit kecil yang berbeda, sehingga mengurangi biaya perancangan misi.

Onboard instruments

Jason-1 membawa bagian muatan dari lima instrument:

  • altimeter Poseidon-2, yaitu instrument utama misi, yang berguna untuk mengukur jarak,
  • Radiometer JMR, untuk mengukur perturbasi akibat titik air pada atmosfer
  • 3 Sistem Lokasi: Doris, LRA dan TRSR

The Poseidon-2 altimeter

Poseidon-2 adalah instrument utama misi, diturunkan dari proyek percobaan altimeter Poseidon-1. Memiliki bentuk tersusun rapat (compact), bertenaga kecil, dan massa yang kecil memberikan daya tahan tingkat tinggi. Poseidon-2 adalah sebuah radar altimeter yang mengemisikan gelombang (pulse) pada dua frekuensi (13,6 dan 5,3 GHz, frekuensi yang kedua digunakan untuk menentukan kandungan electron di atmosfer) dan menganalisa sinyal kembali yang dipantulkan oleh permukaan. Waktu perjalanan sinyal diperkirakan secara presisi untuk menghitung jarak, setelah koreksi dilakukan. (instrument disuplai oleh Cnes)

The JMR radiometer

Instrumen ini mengukur radiasi dari permukaan bumi pada tiga frekuensi (18.7, 23.8, dan 34.0 GHz). Pengukuran yang diperoleh pada masing-masing frekuensi dikombinasikan untuk menentukan uap air atmosfer dan kandungan air. Ketika kandungan air atmosfer diketahui, kita dapat menentukan koreksi yang digunakan untuk delay pada sinyal. (Instrumen disuplai oleh Nasa).

Location systems

Sistem lokasi onboard Jason-1 melengkapi satu sama lain dalam mengukur posisi satelit pada orbit hingga ketelitian dua centimeter pada komponen radial.

LRA merupakan instrument yang akurasinya tinggi, namun membutuhkan stasiun permukaan bumi yang sulit dioperasikan dan penggunaannya juga dibatasi oleh kondisi cuaca yang merugikan. Instrumen ini bias digunakan untuk mengkalibrasi dua system lokasi yang lain sehingga orbit satelit bias ditentukan seakurat mungkin. TRSR (GPS) memperoleh data melengkapi engukuran oleh Doris untuk menentukan orbit dalam real-time dan untuk mendukung penentuan orbit yang presisi.

Doris (Doppler location)

Sistem doris menggunakan jaringan permukaan bumi yang terdiri dari 50 suar orbit disekitar globe, yang mengirimkan sinyal pada dua frekuensi ke sebuah receiver di satelit. Pergerakan reletif satelit menghasilkan sebuah pergeseran dalam frekuensi sinyal (disebut Pergeseran Doppler) yang diukur untuk menurunkan kecepatan satelit.  Data-data ini kemudian diasimilasikan dalam penentuan model orbit untuk menjaga jejak yang tetap dari posisi dsatelit yang presisi (hingga tiga centimeter) pada orbitnya. (Instrumen disuplai oleh Cnes)

TRSR (GPS location)

TRSR menggunakan Global Positioning System (GPS) untuk menentukan posisi satelit dengan triangulasi, dalam cara yang sama posisi GPS diperoleh di Bumi. Paling sedikit tiga satelit GPS menentukan posisi tepat satelit dengan cepat. Data posisi kemudian diintegrasikan pada penentuan model orbit untuk melacaklintasan satelit secara kontinu. (Instrumen disuplai oleh Nasa)

LRA (laser tracking)

LRA merupakan susunan dari cermin yang menyediakan target untuk pengukuran jejak satelit dari permukaan bumi. Dengan menganalisa perjalanan sinar laser, kita dapat melacak dimana satelit pada orbitnya. (instrument disuplai oleh Nasa)

Orbit Jason-1

Orbit Jason-1 identik dengan Topoex/Poseidon. Orbit ini dioptimalkan untuk studi dalam skala besar dari variabilitas laut dan untuk menyediakan tutupan 90% dari lautan dunia dalam siklus sepuluh hari.

 

here.

Jejak Jason-1 sebelum Februari 2009 (merah) dan Topex/Poseidon (hijau) pada permukaan bumi di atas orbit barunya pada 20 September, 2002. Download data Google Earth dengan jejak permukaan bumi Jason-1 dan Topex/Poseidon atau mendapatkan seluruh jejak permukaan bumi disini

Choice of orbit

Ketinggian yang besar dari Jason-1 (1.336 kilometer) mengurangi interaksi dengan atmosfer bumi dan medan grafitasinya hingga minimum, sehingga membuat penentuan orbit semakin mudah dan lebih presisi. Inklinas orbit sebesar 66 derajat Utara dan Selatan memungkinkan satelit untuk mengamati hamper seluruh bagian dari laut yang tidak beku. Siklus orbit terjadi di bawah 10 hari (9.9156 hari untuk lebih presisinya, atau 10 hari kurang 2 jam)- dengan kata lain, satelit melewati posisi yang sama pada permukaan bumi (dengan ketelitian kurang dari satu kilometer) setiap sepuluh hari. Siklus ini merupakan kombinasi antara resolusi spasial dan temporal yang dirancang untuk mempelajari variabilitas laut dalam skala besar. Kenyataan bahwa orbit satelit adalah Progade (berinklinasi antara 0-90 derajat) dan bukan sun-synchronous (berorientasi matahari) juga untuk menghindari pembedaan nama dari perbedaan komponen pasut pada frekuensi yang sama.

Lebih jauh lagi, penggunaan orbit yang sama dengan Topex/Poseidon menjamin interkalibrasi yang lebih baik dan kontinuitas data. Orbit juga dirancang untuk memberikan tempat kalibrasi bumi yang bekerja secara khusus (Cap Senetosa di Corsica, …..)

Jason-1 telah melalui pergantian orbit pada akhir dari OSTM/fase kalibrasi Jason-2 pada Februari 2009. Saat ini, Jason-2 terletak pada orbit Topex/Poseidon sebelumnya (sebelum 2002) dan Jason-1 (sebelum Februari 2009). Orbit Jason-1 bergeser pada pertengahan periode di antara jejak permukaan buminya yang asli (dicocokkan dengan orbit Topex/Poseidon setelah 2002). Jason-1 dan OSTM/Jason-2 juga memiliki time lag (periode waktu antara dua event yang berhubungan) selama 5 hari. Dua siklus (260-261) dari data sains Jason-1 telah hilang selama transit menuju tandem orbitnya yang baru (26 Januari 2009 hingga 15 Februari 2009)

Manoeuvres

Parameter orbit satelit cenderung berganti sepanjang waktu sebagai hasil dari tarikan atmosfer. Dalam jangka panjang, banyak atau sedikit variasi periode juga terjadi akibat ketidak-stabilan medan gravitasi bumi, tekanan radiasi matahari dan gaya lain yang kecil pengaruhnya.

Manuver orbit dilakukan setiap 40 sampai 200 hari. Interval antara maneuver sebagian besar bergantung pada  perubahan terus menerus dari matahari dan setiap maneuver berlangsung dari 20 hingga 60 menit. Di manapun tempat yang mungkin, maneuver dilakukan pada akhir dari siklus orbit dan di atas bumi, sehingga data yang hilang bias direduksi hingga seminimal mungkin.

Orbit parameters

Main characteristics

Semi-major axis

7714.4278 km

Eccentricity

0.000095

Inclination (non-sun-synchronous)

66.039°

Auxiliary data

Reference altitude (equatorial)

1 336 km

Nodal period

6 745.72 seconds (112’42” or 1h52′)

Repeat cycle

9.9156 days

Number of passes per cycle

254

Ground track separation at Equator

315 km

Acute angle at Equator crossings

39.5°

Longitude at Equator of pass 1

99.9242°

Orbital velocity

7.2 km/s

Ground scanning velocity

5.8 km/s

Mission’s objectives

Apakah Bumi semakin hangat? Apa proses yang mendasari pergerakan lautan? Satelit seri Jason akan menyediakan pengamatan radar altimetry dalam decade yang akan dating, menyediakan data yang kontinu tentang tinggi permukaan laut hingga akurasi beberapa centimeter pada seluruh bumi, dan menjelaskan kepada kita lebih banyak tentang variasi dalam sirkulasi perairan permukaan dan perairan dalam.Dirancang mengikuti Topex/Poseidon, instrument dan pemrosesan data Jason-1 telah menarik pelajaran yang dipelajari dari satelit sebelumnya. Jason-1 adalah pengamat lautan yang sebenarnya yang akan menyuplai tinggi permukaan laut dan pengukuran laut statis dalam ‘mendekati’ real-time untuk komunitas pengguna internasional.

Oceanography and ocean forecasting

 Forecasts of ocean circulation and its eddies. Credits Shom/CLS. Variabilitas laut adalah focus utama dari misi Jason-1. Orbit satelit –yang identik dengan Topex/Poseidon- telah didefinisikan untuk memantau 90% lautan dunia selain es setiap sepuluh hari. Pengantaran data real-time akan membuatnya mungkin untuk menginformasikan laporan tentang laut sebagaimana yang kita meramalkan cuaca hari ini.

Climatology and climate prediction

Data altimetry menghasilkan informasi vital untuk pembelajaran dan prediksi iklim, lebih khususnya lagi fenomena iklim seperti El-Nino. Kemampuan Jason-1 untuk mengukur ketinggian laut rata-rata dengan akurasi hingga millimeter akan menjadi asset kunci untuk pemantauan perubahan iklim.

Global variations in mean sea level measured by Jason-1 (Credits CLS/Legos).

Marine meteorology

Jason-1 mengantarkan data statis laut (tinggi gelombang dan kecepatan angin) delam tiga jam. Informasi ini akan membantu kita untuk mengerti lebih baik dan memprediksi kondisi cuaca di atas lautan.

Tinggi gelombang yang signifikan diukur oleh Jason-1

Geophysics

Medan gravitasi bumi mempengaruhi level permukaan laut. Dengan mengukur topografi dinamis laut, kita dapat mempelajari lebih banyak tentang lempeng tektonik, topografi paling bawah, pergerakan mantel bumi dan banyak lagi fenomena geofisika. Data altimetry juga dapat digunakan untuk mempelajari es, danau dan sungai, dan relief pada kawasan gurun.

The mean sea surface shows how the Earth’s gravity field affects the oceans.(Credits Shom/CLS)

  1. ikhwan
    March 27, 2012 at 4:37 am

    bro..daftar pustakanya dari mana nih?

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: